Facebook

Hello! Comments Pictures

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 16 April 2015

HAKIKAT KEBUDAYAAN

1.  Pendapat Para Ahli
A.  Berbagai Rumusan Kebudayaan
Mencari Jawaban atas pertanyaan: apakah hakikat kebudayaan, bukan maksudnya kita akan memasuki suatu diskusi ilmiah yang berkepanjangan untuk mencari definisi mengenai apakah kebudayaan itu.
Pakar antropologi A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn dalam makalahnya yang termahsyur  “Culture: a Critical Review of Concepts and Definitions” yang terbit pada tahun 1952 telah menganalisis dan mengklasifikasi 179 definisi mengenai kebudayaan. Tentunya kita tidak perlu menganalisis lebih lanjut mahakarya kedua pakar tersebut. Yang penting pada kita ialah tidak ada suatu definisi yang sempurna dan akan memberikan kepuasan kepada semua pakar.
Apabila disimak berbagai usaha para pakar untuk mencari jawaban  terhadap pertanyaan apakah hakikat kebudayaan itu maka dapat disimpulkan bahwa inti dari setiap kebudayaan ialah manusia. Dengan kata lain kebudayaan adalah khas insani. Hanya manusia yang berbudaya dan membudaya.
Barangkali di sinilah terletak afinitas antara pendidikan dan kebudayaan. Kedua-duanya merupakan khas insani oleh sebab itu pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Symbol-simbol itu dapat kita lihat di dalam kebudayaan manusia. Seorang antropolog, Leslie White, menyatakan bahwa kebudayaan dilestarikan dan dikembangkan melalui symbol-simbol.
Adalah cukup menarik pendapat Beals dan Hoyer yang telah disinggung sebelumnya. Menurut kedua ahli ini kebudayaan diturunkan kepada generasi penerus lewat proses belajar melalui melihat, dan meniru tingkah laku orang lain. Namun dmeikian kebudayaan itu sendiri bukanlah tingkah laku. Yang dipelajari adalah cara bertindak (the ways of behaving).
Pada umumnya antropologi budaya mengenal relativisme budaya. Hal ini berarti bahwa perbedaan di dalam berbagai kebudayaan adalah kompleksitasnya bukan tinggi-rendah derajatnya. Setiap kebudayaan itu unik dan terus berkembang. Tidak ada suatu kebudayaan yang statis.


B.  Rumusan Edward B. Taylor
Edward B.Taylor dalam bukunya Primitive Culture yang terbit tahun 1871. Definisi Tylor mengenai budaya sebagai berikut:
“Budaya atau peradaban adalah suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, seni moral, hukum adat-istiadat serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. “
Keterkaitan antara proses pendidikan dan proses pembudayaan.
1. Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks. Hal ini berarti bahwa kebudayaan merupakan suatu kesatuan dan bukan jumlah dari bagian-bagian.
2.  Kebudayaan merupakan suatu prestasi kreasi manusia yang a material artinya berupa bentuk-bentuk prestasi psikologis seperti ilmu pengetahuan kepercayaan seni dan sebagainya.
3.  Kebudayaan dapat pula berbentuk fisik seperti hasil seni, terbentuknya kelompok-kelompok keluarga.
4.  Kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah seperti hokum adat-istiadat yang berkesimbungan.
5.    Kebudayaan merupakan suatu realitas yang objektif, yang dapat dilihat.
6.    Kebudayaan diperoleh dari lingkungan.
7.    Kebudayaan tidak terwujud dalam kehidupan manusia yang soliter atau terasing tetapi yang hidup di dalam suatu masyarakat tertentu.
Rumusan Tylor juga menunjukkan tidak adanya perbedaan antara kebudayaan (culture) dan peradaban (civilization).
Apakah implikasi rumusan Tylor tentang budaya yang dapat kita petik dalam usaha kita untuk mempunyai pengertian yang lebih jelas mengenai hakikat kebudayaan? Ada tiga hal yang patut dicatat yaitu:
1.   Adanya keteraturan dalam hidup bermasyarakat.
2.   Adanya proses pemanusiaan.
3.   Di dalam proses pemanusiaan itu terdapat suatu visi tentang kehidupan.

C.  Pandangan Ki Hadjar Dewantara
Konsep Ki Hadjar Dewantara tersebut dikenal sebagai teori Trikon. Menurut Ki Hadjar Dewantara, kebudayaan berarti buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat yaitu alam dan zaman (kodrat dan masyarakat).
Rumusan tersebut mengandung beberapa hal penting yaitu : 1)Kebudayaan selalu bersifat kebangsaan (nasional) dan mewujudkan sifat atau watak kepribadian bangsa. Inilah sifat kemerdekaan kebangsaan dalam arti cultural. 2) Tiap-tiap kebudayaan menunjukkan keindahan dan tingginya adat kemanusiaan pada hidup masing-masing bangsa yang memilikinya. Keluhuran dan kehalusan hidup manusia tersebut selalu dipakainya sebagai ukuran. 3) Tiap-tiap kebudayaan sebagai buah kemengangan manusia terhadap kekuatan alam dan zaman selalu memudahkan dan melancarkan hidupnya serta memberi alat-alat baru untuk meneruskan kemajuan hidup dan memudahkan serta memajukan dan mempertinggi taraf kehidupan.
Bagaimana usaha manusia mengembangkan kebudayaan? Ki Hadjar Dewantara mengemukakan hal-hal sebagai berikut: 1) Pemeliharaan kebudayaan haruslah termaksud memajukan dan menyesuaikan kebudayaan dengan pergantian alam dan zaman. 2) Oleh karena isolasi kebudayaan akan mengalami kemunduran dan matinya hubungan kebudayaan dengan kodrat dan masyarakat. 3) Pembauran kebudayaan mengharuskan adanya hubungan dengan kebudayaan lain yang dapat mengembangkan atau memperkaya kebudayaan sendiri. 4) kemajuan kebudayaan harus berupa lanjutan langsung dari kebudayaan sendiri (kontinuitas), menuju kea rah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi) dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di dalam lingkungan kebudayaan dunia (konsentrisitas). Inilah yang dikenal sebagai teori Trikon yang terkenal itu.
Bagaimanakah pembinaan kebudayaan nasional Indonesia menurut Ki Hadjar Dewantara? Beliau mengemukakan sebagai berikut : 1) Adanya kesatuan alam dan zaman kesatuan sejarah dahulu dan sekarang maka kesatuan kebudayaan Indonesia hanyalah merupakan soal waktu dalam perwujudannya. 2) Sebagai bahan untuk membangun kebudayaan kebangsaan Indonesia diperlukan sari-sari dan puncak-puncak kebudayaan yang terdapat di seluruh daerah Indonesia untuk dijadikan sebagai modal isinya. 3) Dari luar lingkungan kebangsaan perlu diambil bahan-bahan yang dapat mengembangkan dan memperkaya kebudayaan kita sendiri. 4) Di dalam memasukkan bahan-bahan, baik kebudayaan daerah kebudayaan asing perlu selalu diingat syarat-syarat Trikon dari perkembangan kebudayaan. 5) Dalam rangka kemerdekaan bangsa tidak cukup hanya berupa kemerdekaan politik, tetapi juga kesanggupan dan kemampuan mewujudkan kemerdekaan kebudayaan bangsa yaitu kekhususan dan kepribadian dalam segala sifat hidup dan penghidupannya di atas dasar adab kemanusiaan yang luas, luhur dan dalam.
Dewantara menyatakan bahwa memang seyogianya pendidikan akal harus dibangun setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya dan selebar-lebarnya agar peserta didik dapat membangun perikegidupannya lahir batin sebaik-baiknya.
Dengan demikian pendidikan kita telah terisilasi dari kebudayaan sehingga menghasilkan peserta didik yang berakal tetapi belum tentu bermoral. Dengan demikian pendidikan mempunyai arti atau hakikat di dalam proses pendidikan itu sendiri sebagai proses kebudayaan dan pembudayaan. Dengan demikian antara pendidikan dan kebudayaan tidak ada garis pemisah bahkan merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi di dalam proses kemanusiaan. Koentjaraningrat merumuskan kebudayaan sebagai “ Keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya tiu.” Rumusan Koentjaraningrat mengenai hakikat kebudayaan tersebut menunjukkan dengan jelas afinitas hakikat pendidikan di dalam kebudayaan.


2.  Definisi Kebudayaan Menurut Saya :
Kebudayaan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan juga merupakan cara hidup manusia yang selalu berkembang dan dimiliki bersama oleh suah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

3.   Wujud Kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
  • Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
  • Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
  • Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Selasa, 14 April 2015

ILMU PENGETAHUAN

1.        Pengertian Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan

1)        Pengertian Pengetahuan
Persoalan pengetahuan yang menekankan pada hakikat pengetahuan, dijawab oleh aliran-aliran berikut ini :
a.         Idealisme, berpendirian bahwa pengetahuan adalah suatu proses mental ataupun proses psikologisyang sifatnya subyektif. Pengetahuan merupakan gambaran subyektif tentang kenyataan.Pengetahuan tidak memberikan gambaran yang tepat tentang hakekat sesuatu yang berada di luar pikiran manusia.
b.        Empirisme, berpendirian bahwa hakekat pengetahuan adalah berupa pengalaman kusus yang diperoleh secara langsung dengan indera.
c.         Positivisme, berpendirian bahwa kepercayaan yang dogmatis harus digantikan dengan pengetahuan yang faktawi. Sehingga tidak perlu memperhatikan pengalaman.
d.        Pragmatisme, tidak mempersoalkan hakikat pengetahuan melainkan apa guna pengetahuan tersebut ? Pengetahuan dipandang sebagai sarana dalam perbuatan.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakanyang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
2)             Pengertian Ilmu Pengetahuan
Pengertian ilmu menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :
a.        Ashley Montagu menyebutkan bahwa “Science is a systemized knowledge services form observation, study, and experimentation carried on under determine the nature of principles of what being studied.” (ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu system yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip hal yang sedang dipelajari).
b.        Harold H. titus mendefinisikan “Ilmu (Science) diartikan sebagai common science yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis).
c.         Dr. Mohammad Hatta mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari dalam.”
d.        Drs. H. Ali As’ad dalam buku Ta’limul Muta’allim menafsirkan ilmu sebagai :“Ilmu adalah suatu sifat yang kalau dimiliki oleh seorang maka menjadi jelaslah apa yang terlintas di dalam pengertiannya”
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu.Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
a)     Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
b)      Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
c)      Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
d)     Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum . Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
Perbedaan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan adalah terletak pada konsep dari keduanya, dimana pengetahuan lebih spontan sifatnya, sedangkn ilmu pengetahuan lebih sistematis dan reflektif, sesuai dengan pengertiannya bahwa ilmu pengetahuan adalah keseluruhan system pengetahuan manusiayang telah dibakukan secara sistematis.Dengan demikian pengetahuan jauh lebih luas daripada ilmu pengetahuan karena pengetahuan mencakup segala sesuatuyang diketahui manusia tanpa perlu berarti telah dibakukan secara sistematis.
Dari definisi diatas maka dapat dikatakan Ilmu pengetahuan secara etimologi merupakan kata bentukan yang berasal dari 2 kata yaitu ilmu dan pengetahuan. Ilmu adalah suatu hasil dari proses kerja otak, sedangkan pengetahuan yang berkata dasar tahu artinya sadar/insaf dengan penambahan afiksasi pe-an ( pengetahuan) menjadi kata benda artinya kumpulan dari hasil kesadaran manusia terhadap sesuatu. Misalnya kesadaran manusia terhadap fenomena alam maka muncul Ilmu alam, kesadaran manusia terhadap fenomena sosial maka muncul ilmu sosial, kesadaran manusia terhadap fenomena kebudayaan maka muncul ilmu budaya dan lain sebagainya
2. Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan
Melanjutnya pembahasan sebelumnya mengenaipengertian  ilmu pengetahuan maka selanjutnya akan dijelaskan mengenai ciri ilmu pengetahuan.
Dalam buku  Filsafat Ilmu dikutip beberapa pendapat ahli mengenai ciri ilmu pengetahuan  atau pengetahuan ilmiah antara lain :
Menurut The Liang Gie (1987), ilmu pengetahuan dicirikan :
1)       Empiris, artinya pengetahuan diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan;
2)       Sistematis, artinya berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan yang teratur
3)       Objektif, artinya ilmu pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi;
4)       Analitis, artinya pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya dan peranan dari bagian-bagian itu
5)       Verifikatif, artinya dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun
Berdasarkan pendapat Daoed Joesoef (1987), pengertian ilmu mengacu pada tiga hal yaitu produk, proses dan masyarakat Ilmu pengetahuan sebagai produk yaitu pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuwan. Pengetahuan ilmiah dalam hal ini terbatas pada kenyataan-kenyataan yang mengandung kemungkinan untuk disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji, dan dibantah oleh seseorang.
Ilmu pengetahuan tidak bisa menjawab semua pertanyaan.
Ilmu memiliki keterbasan dan membatasi lingkup kajiannya pada batas pengalaman manusia. Hal ini menurut Jujun S. Suriasumantri (2003) karena fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia yaitu sebagai alat membantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari .
Hasil ilmiah bersifat universal.
Ilmu mengasumsikan bahwa alam semesta ini, seperti namanya, sebuah sistem tunggal yang luas di mana aturan-aturan dasar di mana-mana sama. Pengetahuan yang diperoleh dari mempelajari salah satu bagian dari alam semesta ini berlaku untuk bagian lain.
Ide-ide ilmiah atau kesimpulan dapat berubah dan bersifat tentatif.
Ilmu dapat menerima revisi (hukum-hukum, teori, prinsip, standar, dan lainnya) melalui pengujian terus menerus dan evaluasi, peer review atau replikasi. Pada prinsipnya, teori apapun dapat berubah setelah upaya pembantahan dan teori-teori baru dapat menggantikan yang lama.Hal ini menyebabkan ilmu pengetahuan dapat mengatasi masalahnya sendiri.
Sains menuntut bukti kuat
Ilmu mengandalkan diverifikasi, terukur, bukti yang sah, yaitu, data yang akurat, pada setiap tahap proses ilmiah. Bukti-bukti dapat dikumpulkan oleh pengukuran dan hanya dengan indera kita, atau ekstensi dari indera kita (instrumen).Keputusan ilmiah atau evaluasi tidak dipengaruhi oleh perasaan manusia, pengalaman masa lalu atau keyakinan.
Pengembangan ilmu dan pengetahuan ilmiah yang tidak dipengaruhi oleh faktor manusia, seperti prasangka, bias, berpikir atau berharap angan, keyakinan pribadi atau prioritas atau preferensi, kebangsaan, jenis kelamin, asal etnis, usia, keyakinan politik, moral dan penilaian estetika dan pilihan atau agama.
Ilmu dibentuk oleh logika
Kehadiran data yang akurat tidak cukup bagi kemajuan ilmu pengetahuan.Konsep-konsep ilmiah tidak muncul secara otomatis dari data atau dari jumlah analisis saja. Logika (pengetahuan) dan kreativitas diperlukan untuk membentuk mereka ke dalam hasil ilmiah.
Semua pertanyaan ilmiah harus sesuai dengan prinsip-prinsip logis penalaran-yaitu, untuk menguji validitas argumen dengan menerapkan kriteria tertentu inferensi, demonstrasi, dan rasional.
Menurut Van Melsen (1985) Beberapa ciri ilmu pengetahuan lain adalah 4 :
1)       Ilmu pengetahuan adalah logis (menggunakan formula berdasarkan logika), wajar, dan rasional.
2)       Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuwan.
3)       Ilmu pengetahuan bersifat universal
4)       Obyektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh obyek dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subyektif.
5)       Ilmu pengetahuanharus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
6)       Progresivitas,artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah apabila mengandung pertanyaan baru dan menimbulkan problem baru lagi.
7)       Kritis,artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru.
8)       Ilmu pengetahuanharus dapat digunakan sebagai perwujudan keberaturan antara teori dengan praktik.

3.        Revolusi Ilmu Pengetahuan
Revolusi ilmu pengetahuan merupakan suatu revolusi yang menandakan bangkitnya kelompok intelektual bangsa Eropa mengenai cara berpikir keilmiahan. Revolusi ilmu pengetahuan adalah sebuah revolusi mengenai perubahan cara berpikir serta persepsi manusia dalam mendapatkan pengetahuan bagi dirinya. Perubahan persepsi manusia tersebut adalah perubahan dari cara berpikir yang ontologis ke cara berpikir matematis. Cara berpikir ontologis adalah warisan yang ditinggalkan bangsa Eropa ketika Abad Pertengahan diberlakukan hukum agama bagi segala-galanya, termasuk kegiatan ilmu pengetahuan.Saat Abad Renaissance manusia tidak lagi menjadi citra Tuhan, tetapi manusia juga memiliki rasio atau kesadaran manusia serta kreativitas keinginan untuk maju, memperbaiki kebudayaan manusia.Pengetahuan dilandaskan rasionalitas dan empiristis yang berkembang pesat dengan pendekatan matematis yang diterapkan dalam kajiannya.
Cara berpikir mekanistis dalam revolusi ilmu pengetahuan yangdipelopori oleh Newton menjadi semacam gaya para intelektual untuk membuatanalisis dalam penelitiannya.Pendekatan yang bersifat kausalitas yang didukungdengan percobaan atau eksperimen melalui usaha uji coba model tiruan dari objek yang sesungguhnya membuat para peneliti dapat mengembangkan penelitiannyadengan lebih sempurna.
Salah satu pemikir atau ilmuwan yang memberikan kontribusi besar dalam revolusi ilmiah adalah Thomas Samual Kuhn, seorang tokoh yang lahir diCincinnati, Ohio. Munculnya buku beliau yang berjudul ”The Structure of Scientific Revolutions” banyak mengubah persepsi orang tentang apa yangdinamakan ilmu. Jika sebagian orang mengatakan pergerakan ilmu itu linier-akumulatif, maka Thomas Kuhn mengatakan, ilmu bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada kondisi normal dan kemudian krisis karenatelah digantikan oleh ilmu atau paradigma baru.

Revolusi ilmu Pengetahuan menurut Thomas Samuel  Kuhn.
Thomas Samuel Kuhn (1922-1996) menulis panjang lebar tentang sejarahilmu pengetahuan, dan mengembangkan beberapa gagasan penting dalam filsafatilmu pengetahuan. Ia sangat terkenal karena bukunya “The Structure of ScientificRevolutions” di mana ia menyampaikan gagasan bahwa sains tidak "berkembangsecara bertahap menuju kebenaran", tapi malah mengalami revolusi periodik yangdia sebut pergeseran paradigma. Analisis Kuhn tentang sejarah ilmu pengetahuanmenunjukkan kepadanya bahwa praktik ilmu datang dalam tiga fase; yaitu:
1)        Tahap pertama, tahap pra-ilmiah, yang mengalami hanya sekali dimana tidak ada konsensus tentang teori apapun. Penjelasan fase ini umumnya ditandai oleh beberapa teori yang tidak sesuai dan tidak lengkap. Akhirnya salah satu dariteori ini "menang".
2)        Tahap kedua, Normal Science. Seorang ilmuwan yang bekerja dalam fase inimemiliki teori override (kumpulan teori) yang oleh Kuhn disebut sebagai paradigma. Dalam ilmu pengetahuan normal, tugas ilmuwan adalah rumit,memperluas, dan lebih membenarkan paradigma. Akhirnya, bagaimanapun,masalah muncul, dan teori ini diubah dalam ad hoc cara untuk mengakomodasi bukti eksperimental yang mungkin tampaknya bertentangan dengan teori asli.Akhirnya, teori penjelasan saat ini gagal untuk menjelaskan beberapa fenomena atau kelompok daripadanya, dan seseorang mengusulkan penggantian atau redefinisi dari teori ini.
3)        Tahap ketiga, pergeseran paradigma, mengantar pada periode baru ilmu pengetahuan revolusioner. Kuhn percaya bahwa semua bidang ilmiah melalui pergeseran paradigma ini berkali-kali, seperti teori-teori baru menggantikanyang lama.Sebagai contoh fenomena adanya pergeseran paradigma ini adalah tentang pendapat Copernicus bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, sebelumnyaPtolemeus menyatakan bahwa matahari dan planet-planet lain serta bintang- bintang, berputar mengelilingi bumi.

4. Pengelompokan Ilmu Pengetahuan
              Apabila kita berbicara mengenai ilmu pengetahuan, apa yang terlintas dalam pikiran kita? Suatu mata pelajaran.Memang tidak dapat dipungkiri dari sekian banyak mata pelajaran yang kita pelajari di sekolah adalah ilmu pengetahuan.Ini berarti ilmu pengetahuan yang ada di dunia jumlahnya sangat banyak.Lantas, dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang berkembang, bagaimana kita mempelajarinya?
Para ahli telah memikirkan semua itu, sehingga dibuatlah pengelompokan ilmu pengetahuan.Secara umum ilmu pengetahuan dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Yaitu ilmu pengetahuan yang  didasarkan atas objek atau bidang kajian (M. Nata Saputra, S.H.) dan didasarkan pada tujuan pengkajiannya.
a.    Ilmu pengatahuan yang didasarkan atas objek atau bidang kajian antara lain, ilmu pengetahuan alam (natural sciences), ilmu pengetahuan sosial (social sciences), dan ilmu pengetahua budaya (humanistics study).
a)        Ilmu pengetahuan alam (natural sciences)                                   
Ilmu pengetahuan alam (natural sciences) merupakan ilmu yang mempelajari  gejala-gejala alam, baik hayati maupun nonhayati. Yang termasuk dalam  lmu ini adalah biologi,fisika, kimia, dan lain-lain.
b)        Ilmu pengetahuan sosial (social sciences)
    Ilmu pengetahuan sosial (social sciences) adalah ilmu yang mengkaji kehidupan bersama manusia dengan sesamanya seperti, antropologi, sosiologi, ekonomi, dan lain-lain.
c)        Ilmu pengetahuan budaya (humanistics study)
Ilmu pengetahuan budaya merupakan ilmu yang mempelajari manifestasi atau perwujudan spiritual dari kehidupan bersama manusia.
b.  Ilmu pengatahuan yang didasarkan pada tujuan pengkajiannya dikelompokkan  
menjadi ilmu murni (pure sciences) dan ilmu terapan (applied sciences).
a)        Ilmu murni (pure sciences)
      Ilmu murni (pure science) merupakan suatu ilmu yang bertujuan mendalami teori untuk memajukan atau memperkaya khazanah ilmu tersebut.Contoh, seseorang ingin menguji kebenaran teori konflik yang dikemukakan oleh Ralp Dahrendorf.Menurutnya (sebagaimana dikutip George Ritzer: 2003), setiap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat akan menimbulkan pertentangan yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan masyarakat. Berdasarkan teori itulah seseorang melakukan sejumlah penelitian untuk membuktikan kebenaran teori tersebut. Hasil dari penelitian itu akan menghasilkan suatu ilmu yang termasuk ilmu murni atau pure science.
b)        Ilmu terapan (applied sciences)
Ilmu terapan (applied science) merupakan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis, sehingga dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.Misalnya, akhir-akhir ini di Indonesia disibukkan dengan bencana gempa dan gelombang tsunami yang melanda di sebagian besar wilayahnya. Mulai Aceh, Lampung, Ciamis, Cilacap, Bantul, Singaraja, bahkan Minahasa. Akibatnya, ketenangan masyarakat menjadi terganggu, rasa ketakutan menyelimuti hampir seluruh warga pesisir pantai.


Source :

  1. The Liang Gie. Dikutip dari buku Surajiyo. 2007. Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara., p. 59
  2. Daoed Joesoef. Dikutip dari buku Surajiyo. 2007. Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara., p. 59
  3. Jujun S. Suriasumantri. (2003). Filsafat Ilmu : sebuah pengantar populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. p : 91
  4. Fuad Ihsan (2010).Filsafat Imu. Jakarta : Rineka Cipta., p.90, 91, 114
  5. http://www.scribd.com/doc/36361553/Revolusi-Ilmu-Pengetahuan
  6. http://www.stiabinabanua.ac.id/dwn/iad%20klh%201-iv%202008.doc