1. Pendapat
Para Ahli
A. Berbagai
Rumusan Kebudayaan
Mencari Jawaban atas
pertanyaan: apakah hakikat kebudayaan, bukan maksudnya kita akan memasuki suatu
diskusi ilmiah yang berkepanjangan untuk mencari definisi mengenai apakah
kebudayaan itu.
Pakar antropologi A.L.
Kroeber dan C. Kluckhohn dalam makalahnya yang termahsyur “Culture: a Critical Review of Concepts and
Definitions” yang terbit pada tahun 1952 telah menganalisis dan mengklasifikasi
179 definisi mengenai kebudayaan. Tentunya kita tidak perlu menganalisis lebih
lanjut mahakarya kedua pakar tersebut. Yang penting pada kita ialah tidak ada
suatu definisi yang sempurna dan akan memberikan kepuasan kepada semua pakar.

Barangkali di sinilah
terletak afinitas antara pendidikan dan kebudayaan. Kedua-duanya merupakan khas
insani oleh sebab itu pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu
dengan yang lain.
Symbol-simbol itu dapat
kita lihat di dalam kebudayaan manusia. Seorang antropolog, Leslie White,
menyatakan bahwa kebudayaan dilestarikan dan dikembangkan melalui
symbol-simbol.
Adalah cukup menarik
pendapat Beals dan Hoyer yang telah disinggung sebelumnya. Menurut kedua ahli
ini kebudayaan diturunkan kepada generasi penerus lewat proses belajar melalui
melihat, dan meniru tingkah laku orang lain. Namun dmeikian kebudayaan itu
sendiri bukanlah tingkah laku. Yang dipelajari adalah cara bertindak (the ways of behaving).
Pada umumnya antropologi
budaya mengenal relativisme budaya. Hal ini berarti bahwa perbedaan di dalam
berbagai kebudayaan adalah kompleksitasnya bukan tinggi-rendah derajatnya.
Setiap kebudayaan itu unik dan terus berkembang. Tidak ada suatu kebudayaan
yang statis.
B. Rumusan
Edward B. Taylor
Edward B.Taylor dalam
bukunya Primitive Culture yang terbit tahun 1871. Definisi Tylor mengenai
budaya sebagai berikut:
“Budaya
atau peradaban adalah suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, seni
moral, hukum adat-istiadat serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang
diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. “
Keterkaitan antara proses pendidikan dan
proses pembudayaan.
1. Kebudayaan
merupakan suatu keseluruhan yang kompleks. Hal ini berarti bahwa kebudayaan
merupakan suatu kesatuan dan bukan jumlah dari bagian-bagian.
2. Kebudayaan
merupakan suatu prestasi kreasi manusia yang a material artinya berupa
bentuk-bentuk prestasi psikologis seperti ilmu pengetahuan kepercayaan seni dan
sebagainya.
3. Kebudayaan
dapat pula berbentuk fisik seperti hasil seni, terbentuknya kelompok-kelompok
keluarga.
4. Kebudayaan
dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah seperti hokum adat-istiadat
yang berkesimbungan.
5. Kebudayaan
merupakan suatu realitas yang objektif, yang dapat dilihat.
6. Kebudayaan
diperoleh dari lingkungan.
7. Kebudayaan
tidak terwujud dalam kehidupan manusia yang soliter atau terasing tetapi yang
hidup di dalam suatu masyarakat tertentu.
Rumusan
Tylor juga menunjukkan tidak adanya perbedaan antara kebudayaan (culture) dan peradaban (civilization).
Apakah
implikasi rumusan Tylor tentang budaya yang dapat kita petik dalam usaha kita
untuk mempunyai pengertian yang lebih jelas mengenai hakikat kebudayaan? Ada
tiga hal yang patut dicatat yaitu:
1. Adanya
keteraturan dalam hidup bermasyarakat.
2. Adanya
proses pemanusiaan.
3. Di
dalam proses pemanusiaan itu terdapat suatu visi tentang kehidupan.
C. Pandangan
Ki Hadjar Dewantara
Konsep Ki Hadjar
Dewantara tersebut dikenal sebagai teori Trikon.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, kebudayaan berarti buah budi manusia yang
merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat yaitu alam
dan zaman (kodrat dan masyarakat).
Rumusan tersebut
mengandung beberapa hal penting yaitu : 1)Kebudayaan selalu bersifat kebangsaan
(nasional) dan mewujudkan sifat atau watak kepribadian bangsa. Inilah sifat
kemerdekaan kebangsaan dalam arti cultural. 2) Tiap-tiap kebudayaan menunjukkan
keindahan dan tingginya adat kemanusiaan pada hidup masing-masing bangsa yang
memilikinya. Keluhuran dan kehalusan hidup manusia tersebut selalu dipakainya
sebagai ukuran. 3) Tiap-tiap kebudayaan sebagai buah kemengangan manusia
terhadap kekuatan alam dan zaman selalu memudahkan dan melancarkan hidupnya
serta memberi alat-alat baru untuk meneruskan kemajuan hidup dan memudahkan serta
memajukan dan mempertinggi taraf kehidupan.
Bagaimana usaha manusia
mengembangkan kebudayaan? Ki Hadjar Dewantara mengemukakan hal-hal sebagai
berikut: 1) Pemeliharaan kebudayaan haruslah termaksud memajukan dan
menyesuaikan kebudayaan dengan pergantian alam dan zaman. 2) Oleh karena
isolasi kebudayaan akan mengalami kemunduran dan matinya hubungan kebudayaan
dengan kodrat dan masyarakat. 3) Pembauran kebudayaan mengharuskan adanya
hubungan dengan kebudayaan lain yang dapat mengembangkan atau memperkaya kebudayaan
sendiri. 4) kemajuan kebudayaan harus berupa lanjutan langsung dari kebudayaan
sendiri (kontinuitas), menuju kea rah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi)
dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di dalam lingkungan kebudayaan
dunia (konsentrisitas). Inilah yang dikenal sebagai teori Trikon yang terkenal
itu.
Bagaimanakah
pembinaan kebudayaan nasional Indonesia menurut Ki Hadjar Dewantara?
Beliau mengemukakan sebagai berikut : 1) Adanya kesatuan alam dan zaman
kesatuan sejarah dahulu dan sekarang maka kesatuan kebudayaan Indonesia
hanyalah merupakan soal waktu dalam perwujudannya. 2) Sebagai bahan untuk
membangun kebudayaan kebangsaan Indonesia diperlukan sari-sari dan
puncak-puncak kebudayaan yang terdapat di seluruh daerah Indonesia untuk
dijadikan sebagai modal isinya. 3) Dari luar lingkungan kebangsaan perlu
diambil bahan-bahan yang dapat mengembangkan dan memperkaya kebudayaan kita
sendiri. 4) Di dalam memasukkan bahan-bahan, baik kebudayaan daerah kebudayaan
asing perlu selalu diingat syarat-syarat Trikon dari perkembangan kebudayaan.
5) Dalam rangka kemerdekaan bangsa tidak cukup hanya berupa kemerdekaan
politik, tetapi juga kesanggupan dan kemampuan mewujudkan kemerdekaan
kebudayaan bangsa yaitu kekhususan dan kepribadian dalam segala sifat hidup dan
penghidupannya di atas dasar adab kemanusiaan yang luas, luhur dan dalam.
Dewantara menyatakan
bahwa memang seyogianya pendidikan akal harus dibangun setinggi-tingginya,
sedalam-dalamnya dan selebar-lebarnya agar peserta didik dapat membangun
perikegidupannya lahir batin sebaik-baiknya.
Dengan demikian
pendidikan kita telah terisilasi dari kebudayaan sehingga menghasilkan peserta
didik yang berakal tetapi belum tentu bermoral. Dengan demikian pendidikan
mempunyai arti atau hakikat di dalam proses pendidikan itu sendiri sebagai
proses kebudayaan dan pembudayaan. Dengan demikian antara pendidikan dan
kebudayaan tidak ada garis pemisah bahkan merupakan suatu kesatuan yang
terintegrasi di dalam proses kemanusiaan. Koentjaraningrat merumuskan
kebudayaan sebagai “ Keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus
dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya
tiu.” Rumusan Koentjaraningrat mengenai hakikat kebudayaan tersebut menunjukkan
dengan jelas afinitas hakikat pendidikan di dalam kebudayaan.
2. Definisi
Kebudayaan Menurut Saya :
Kebudayaan
adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia yang memuat hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan juga merupakan cara hidup
manusia yang selalu berkembang dan dimiliki bersama oleh suah kelompok orang
dan diwariskan dari generasi ke generasi.
3. Wujud
Kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan
menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
- Gagasan (Wujud ideal)
Wujud
ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak;
tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam
kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu
dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam
karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
- Aktivitas (tindakan)
Aktivitas
adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial.
Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia
lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
Sifatnya konkret, terjadi
dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
- Artefak (karya)
Artefak
adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya
semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga
wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud
kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain.
Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada
tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
0 komentar:
Posting Komentar